Selasa, 06 Maret 2012

Tetralogy Of Fallot


    KONSEP DASAR MEDIS
             1.      Definisi
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif, makin lama makin berat.
2.      Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaa tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor –faktor tersebut antara lain :
1.      Faktor endogen
a.       Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom.
b.      Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
c.       Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung atau kelainan bawaan
2. Faktor eksogen
a.       Riwayat kehamilan ibu: sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine, aminopterin, amethopterin, jamu).
b.      Ibu menderita penyakit infeksi: rubella
c.       Pajanan terhadap sinar -X
Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adaah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.
             3.      Anatomi dan Fisiologi
a.       Anatomi

b.      Fisiologi
Jantung adalah organ berupa otot berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya diatas dan puncaknya dibawah. Apeknya miring ke sebelah kiri. Berat jantung kira – kira 300 gram. Jantung berada dalam thorax iga ke-3 kanan, iga ke-2 kiri sampai intercosta ke-5. Jantung adalah organ berongga dengan sekepalan tangan orang dewasa. Jantung terletak di rongga thoraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum atau tulang disebelah anferior dan vertebrae disebelah posterior Evelyn C Pearce (2000:121) menyatakan: jantung terbagi oleh suatu sekat (septum) menjadi dua belah yaitu kiri dan kanan. Setiap belahan kemudian dibagi dalam dua ruang yang atas disetiap atrium dan yang bawah ventrikel. Antara Atrium dan ventrikel terdapat katup, yang kanan bernama katup (valvula) trikuspidalis dan yang kiri katup mitral atau katup bikuspidalis. Lapisan jantung terdiri dari endokardium (dalam), miokardium (inti) dan pericardium (luar). Dipersarafi oleh nerfus simpatikus untuk meningkatkan kerja jantung dan nervus parasimpatikum khususnya cabang dari nervus vagus yang bekerja memperlambat kerja jantung.
Gerakan jantung berasal dari nodus sinus atrial kemudian kedua atrium berkontraksi. Gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu kontraksi atau sistol dan pengendoran atau diastole. Lama kontraksi ventikel 0,3 detik dan tahap pengendoran selama 0,5 detik. Hudak dan Gallo (1997:382 – 383) menyatakan “pada jantung terdiri arteri koroner besar, kiri dan kanan. Arteri koroner besar mempunyai dua cabang desenden anterior kiri yang juga disebut “window maker”. Melalui bawah anferior dinding kebawah apeks miokard. Bagian ini mensuplai aliran darah dua pertiga dari septum intrafentrikuler, kebanyakan dari apeks dan ventrikel kiri anferior. Enzim – enzim jantung di peroleh dari gambaran darah tiap 8 jam selama 1 – 2 hari. Ketika terjadi cedera, banyak protein lepas dari bagian dalam sel otot jantung dan masuk kedalam sirkulasi. Enzim – enzim jantung yang harus diobservasi pada jantung adalah Creatinkinase (CK), Laktat dehidrogenase (LDH) dan Serum Glutamik Oksaloasetat Tramsamine (SGOT). Cretinkinase (Ck) dengan isoenzimnya (Ck –Mb) dipandang sebagai indicator sensitive dan dapat dipercaya dalam menegakkan diagnose IMC. Terdapat tiga macam isoensim CK: (CK-MB= otot skeletal), (CK- MB = otot jantung), dan (CK- BB jaringan otak). CK- Mb adalah isoenzim khusus untuk jantung artinya CK – MB hanya ditemukan pada sel jantung dan tentu saja akan meningkat hanya bila terjadi kerusakan pada sel – sel tersebut.
            5.      Manifestasi Klinis
·         Sianosis
Obstruksi aliran darah keluar ventrikel kanan→hipertrofi intudikulum meningkat→obstuksi meningkat disertai pertumbuhan yamg semakin meningkat→sianosis.
·         Dispnea
Terjadi bila penderita melakukan aktivitas fisik.
·         Serangan-serangan dispnea paraksinal (serangan-serangan anoksia baru) semakin bertambah usia, sianosis bertambah berat →umum pada pagi hari.
·         Keterlambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan gangguan pada pertambahan tinggi badan terutama pada anak, keadaan gizi kurang dari kebutuhan normal. Pertumbuhan otot-otot dari jaringan subcutan terlihat kendor dan lunak, masa pubertas terlambat.
·         Denyut pembuluh darah normal.
Jantung biasanya dalam ukuran normal, apeks jantung jelas terlihat, suatu getaran sistolis dapat dirasakan disepanjang tepi kiri tulang dada, pada celah parasternal 3 dan 4.
·         Bising sistolik
Terdengar keras dan kasar, dapat menyebar luas,tetapi intensitas terbesar pada tepi kiri tulang dada.

          6.      Komplikasi
1.      Trombosis pulmonal
2.      CVA thrombosis
3.      Abses otak
4.      Anemia
5.      Perdarahan relative
            7.      Penatalaksanaan
a)      Posisi lutut ke dada agar aliran ke paru bertambah.
b)      Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kg sc, IM atau IV menekan pusat pernafasaan dan mengatasi takipneu.
c)      Birkabonas natrikus 1 mg/kg BB IV untuk mengatasi asidosis.
d)     Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian disins tidak begitu tepat karena permasalahan bukan karena kekurangan oksigen tetapi karena aliran darah keparu menurun. Dengan usaha diatas diharapkan anak tidak lagi takipnea. Sianosis berkurang dan anak menjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian.
e)      Propanolol 10,01-0,25 mg/kg BB IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut jantung sehingga serangan dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dengan 10 ml cairan dalam spuit, dosis awal bolus diberikan separuhnya bila serangan belum teratasi sisanya diberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya.
f)       Ketamin 1-3 mg/BB (rata-rata 2,2 mg/kg) IV perlahan obat ini bekerja meningkatkan resistensi vaskuler sistemik dan juga sedative.
g)      Penambahan volume cairan tubuh dengan infuse cairan dapat efektif  dalam penanganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat meningkatkan curah jantung, sehingga aliran keparu bertambah dan aliran darah sistemik membawa oksigen keseluruh tubuh juga meningkat.
Selanjutnya lakukan:
Pumonal oval 2-4 mg/kg hari dapat digunakan untuk serangan sianotik bila ada defisiensi zat besi segera diatasi hindari dehidrasi.
B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
         1.      Pengkajian
Data yang umum pada pasien  dengan tetralogi of fallot adalah:
a)      Cyanosis menyeluruh atau pada membrane mokosa bibir, lidah, konjungtifa, sianosis juga timbul pada saat menangis atau tegang, berendam dalam air →dapat perifer atau sentral.
b)      Dispnea biasanya menyertai aktifitas makan,menangis atau tegang/stress.
c)      Kelemahan, umum pada kaki.
d)     Pertumbuhan dan perkembangan tidak sesuai dengan usia.
e)      Digital Clubing.
f)       Sakit kepala.
g)      Epistaksis

       2.      Diagnosa Keperawatan
a)      Resiko penurunan cardiac output b/d adanya kelainan structural jantung.
b)      Intoleran aktivitas b/d ketdak seimbangan pemenuhan O2 terhadap kebutuhan tubuh
c)      Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak  adekuat,kebutuhan nutrisi jaringan tubuh.
d)     Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat

         3.      Rencana tindakan keperawatan
DX Kep 1 :Resiko penurunan cardiac output b/d adnya kelainan structural jantung.
Tujuan             : Penurunan cardiac output tidak terjadi
Kriteria Hasil   : tanda vital dalam batas yang dapat diterima ,bebas gejala gagal jantung, melaporkan penurunan
                 
Intervensi
Rasional
         Kaji frekuensi nadi, RR, TD secarateratur sekap 4 jam
.
         Cata bunyi jantung.

         Kaji perubahan warna kulit terhadap sionis dan pucat.


         Pantau Intake dan Output setiap 24 jam.

         Batasi aktivitas secara adekuat.


         Berikan kondisi psikologis linkungan yang tenang.   
         Memonitor adanya perubahan sirkulasi jantung sedini mungkin.

         Mengetahui adanya perubahan irama jantung.


         Pucat menunjukkan adanya peperusi perifer terhadap tidak adekuatnya jantung. Sianosis terjadi sebagai akibat adanya obstruksi aliran darah pada Vertikal
.
         Ginjal berespon untuk menurunkan curah jantung dengan menahan produksi cairan dan natrium.

         Stres emosi menghasilkan vasokontriksi yang meningkatkan TD meningkatkan kerja jantung


DX Kep 2: Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan pemenuhan O2 terhadap kebutuhan tubuh
Tujuan             : Pasien akan menunjukkan keseimbangan energi yang adekuat
Kriteria hasil    : Pasien dapat mengikuti aktivitas sesuai kemampuan, istirahat tidur tercukupi  

Intervensi
Rasional
  • Ikuti pola istirahat pasien ,hindari pemberian intervensi pada saat istirahat

  • Lakukan perawatan dengan cepat,hindari pengeluaran energi berlebih dari pasien

  • Bantu pasien memilih kegiatan yang tidak melelahkan

  • Hindari perubahan suhu lingkungan yang mendadak


  • Kurangi kecemasan pasien dengan memberi penjelasan yang dibutuhkan pasien dan keluarga

  • Respon perubahan keadaan psikologis (menangis,murung) dengan baik
  • Menghindari gangguan pada istirahat tidur pasien sehingga kebutuhan energi dan dibatasi yang lebjh pentung

  • Meningkatkan kebutuhan isrirahat pasien dari kegiatan yang melelahkan dan meningkatkan beban

  • Perubahan suhu lingkungan yang mendadak merangsang kebutuhan akan oksigen yang meningkat

  • Kecemasan meningkatkan respon psikologis yang merangsang peningkatan kortisol dan meningkatkan suplai O2

  • Stres dan kecemasan berpengaruh terhadap kebutuhan O2 jaringan


Dx Kep 3: Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d oksigenasi tidak adekuat,kebutuhan nutrisi jaringan tubuh,isolasi social
Tujuan             : Pertumbuhan dan perkembangan dapat mengikuti kurca tumbuh kembang sesuai dengan usia.
Kritera hasil     : Pasien dapat mengikui tahap pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usia, pasien terbebas dari isolasi sosial

Intervensi
Rasional
  Sediakan kebutuhan nutrisi adekuat

  Monitor BB/TB buat catatan khusus sebagai monitor


  Kolaborasi intake Fe dalam nutrisi
  Menunjang kebutuhan nutrisi pada masa pertumbuhan dan perkembangan serta meningkatkan daya tahan tubuh

  Sebagai monitor terhadap pertumbuhan dan keadaan gizi pasien selama dirawat


  Mencegah terjadinya anemia sedini mungkin akibat penurunan kardiak output

Dx Kep 4: Resiko infeksi b/d keadaan umum tidak adekuat
Tujuan:         :Infeksi tidak terjadi
Kritera hasil :Bebas dari tanda-tanda infeksi

Intervensi
Rasional
  Kaji tanda vital dan tanda-tanda infeksi umum lainya

  Hindari kontak dengan sumber-sumber infeksi


  Sediakan waktu istirahat yang adekuat

  Sediakan kebutuhan nutrisi yang adekuat sesuau kebutuhan
  Monitor gejalaa dan tanda infeksi sedini mungkin

  Menghindari pasien dari kemungkinan terkena infeksi dari sumber  yang dapat dihindari

  Isrirahat adekuat membantu meningkatkan keadaan umum pasien


  Nutrisi adekuat menunjang daya tubuh pasien yang optimal

Minggu, 04 Maret 2012

Atrial Septal Defect (ASD)


A.    KONSEP DASAR MEDIS
          1.      Definisi

    ASD ( Atrial Septum Defek ) adalah kelainan defek yang menjurus ke arah beban volume pada jantung bagian kanan, dimana septum atrium yang matang terjadi proses embriologi yang rumit dan struktur tidak sempurna. Bentuk atrial septal defek yang paling umum adalah menetapnya ostium sekundum pada pertengahan septum (80 % kasus); bentuk yang lain adalah ostium primum (terletak di septum bagian bawah) persisten yang dapat disertai dengan kelainan katup mitralis atau bikuspidalis. Bentuk ketika dalah defek sinus venosus di septum di bagian atas. Keadaan ini sering terjadi anomaly aliran darah sebagioan dari vena pulmonalis ke dalam vena kava superior. Pada ketiga bentuk kasus ini darah yang mengandung oksigen mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan sehingga meningkatkan output dan aliran darah pulmonal.


2.      Etiologi

Penyebab belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa factor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. 
Faktor-faktor tersebut diantaranya :

1.      Faktor prenatal

a. Ibu menderita infeksi rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu

2.      Faktor genetik

a. Anak yang lahir sebelum menderita PJB
b. Ayah atau ibu yang menderita PJB
c. Kelainan kromosom misalnya sindroma dowm
d. Lahir dengan kelainan bawaan lain.




        3.       Anatomi dan Fisiologi
a.       Anatomi

b.      Fisiologi
Jantung adalah organ berupa otot berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya diatas dan puncaknya dibawah. Apeknya miring ke sebelah kiri. Berat jantung kira – kira 300 gram. Jantung berada dalam thorax iga ke-3 kanan, iga ke-2 kiri sampai intercosta ke-5. Jantung adalah organ berongga dengan sekepalan tangan orang dewasa. Jantung terletak di rongga thoraks (dada) sekitar garis tengah antara sternum atau tulang disebelah anferior dan vertebrae disebelah posterior Evelyn C Pearce (2000:121) menyatakan: jantung terbagi oleh suatu sekat (septum) menjadi dua belah yaitu kiri dan kanan. Setiap belahan kemudian dibagi dalam dua ruang yang atas disetiap atrium dan yang bawah ventrikel. Antara Atrium dan ventrikel terdapat katup, yang kanan bernama katup (valvula) trikuspidalis dan yang kiri katup mitral atau katup bikuspidalis. Lapisan jantung terdiri dari endokardium (dalam), miokardium (inti) dan pericardium (luar). Dipersarafi oleh nerfus simpatikus untuk meningkatkan kerja jantung dan nervus parasimpatikum khususnya cabang dari nervus vagus yang bekerja memperlambat kerja jantung.

Gerakan jantung berasal dari nodus sinus atrial kemudian kedua atrium berkontraksi. Gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu kontraksi atau sistol dan pengendoran atau diastole. Lama kontraksi ventikel 0,3 detik dan tahap pengendoran selama 0,5 detik. Hudak dan Gallo (1997:382 – 383) menyatakan “pada jantung terdiri arteri koroner besar, kiri dan kanan. Arteri koroner besar mempunyai dua cabang desenden anterior kiri yang juga disebut “window maker”. Melalui bawah anferior dinding kebawah apeks miokard. Bagian ini mensuplai aliran darah dua pertiga dari septum intrafentrikuler, kebanyakan dari apeks dan ventrikel kiri anferior. Enzim – enzim jantung di peroleh dari gambaran darah tiap 8 jam selama 1 – 2 hari. Ketika terjadi cedera, banyak protein lepas dari bagian dalam sel otot jantung dan masuk kedalam sirkulasi. Enzim – enzim jantung yang harus diobservasi pada jantung adalah Creatinkinase (CK), Laktat dehidrogenase (LDH) dan Serum Glutamik Oksaloasetat Tramsamine (SGOT). Cretinkinase (Ck) dengan isoenzimnya (Ck –Mb) dipandang sebagai indicator sensitive dan dapat dipercaya dalam menegakkan diagnose IMC. Terdapat tiga macam isoensim CK: (CK-MB= otot skeletal), (CK- MB = otot jantung), dan (CK- BB jaringan otak). CK- Mb adalah isoenzim khusus untuk jantung artinya CK – MB hanya ditemukan pada sel jantung dan tentu saja akan meningkat hanya bila terjadi kerusakan pada sel – sel tersebut.


4.      Patofisiologi

Darah arterial dari atrium kiri masuk ke atrium kanan. Aliran tidak deras karena perbedaan tekanan atrium kiri dan kanan tidak besar (tekanan atrium kiri lebih besar dari tekanan atrium kanan. Beban pada atrium kanan, atrium pulmonalis kapiler paru, dan atrium kiri meningkat, sehingga tekanannya meningkat. Tahanan katup pulmonal naik, timbul bising sistolik karena stenosis relative katup pulmonal. Juga terjadi stenosis relative katup trikuspidal, sehingga terdengar bising diastolik. Penambahan beban atrium pulmonal bertambah, sehingga tahanan katup pulmonal meningkat dan terjadi kenaikan tekanan ventrikel kanan yang permanen. Kejadian ini berjalan lambat. Pada ASD primum bisa terjadi insufisiensi katup mitral atau trikuspidal sehingga darah dari ventrikel kiri atau kanan kembali ke atrium kiri atau kanan saat sistol.


     5.      Manifestasi Klinis
a.       Sebagian besar pasien dengan defek yang ringan atau sedang tidak menunjukkan gejala.
b.      Pada pirau yang besar, timbul dispnea pada saat aktifitas, gagal jantung dan sesak nafas.
c.       Pernafasan cuping hidung, Torak: pergerakan simetris.
d.      Pada pemeriksaan palpasi terdapat kelainan ventrikel kanan yang hiperdinamik di parasternal kiri.
e.       Pada auskultasi terjadi bunyi jantung 1 dan 2 normal, terdengar bising sistolik.
6.      Komplikasi
1. Gagal Jantung
2. Penyakit pembuluh darah paru
3. Endokarditis
4. Aritmia

7.      Penatalaksanaan Medis
ASD kecil tidak perlu oprasi karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik atau bahaya endokarditis infektif. ASD besar perlu tindakan bedah yang dianjurkan dilakukan dibawah umur 6 tahun (pra sekolah). Walaupun setelah operasi kemungkinan ventrikel kanan masih menunjukkan dilatasi. Hal ini karena komplien otot jantung sudah berkurang. Pada penutupan spontan ASD sangat kecil kemungkinannya sehingga operasi sangat berarti. Defek fosa ovalis atau defek atrioventrikuler dengan komplikasi ditutup dengan bantuan mesin jantung paru.
B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
             1.      Pengkajian
1)      Pengkajian Umum
a)      Keluhan Utama
Keluhan orang tua pada waktu membawa anaknya ke dokter tergantung dari jenis defek yang terjadi baik pada ventrikel maupun atrium, tapi biasanya terjadi sesak, pembengkakan pada tungkai dan berkeringat banyak.
b)      Riwayat Kesehatan
1.      Riwayat kesehatan sekarang
Anak mengalami sesak nafas berkeringat banyak dan pembengkakan pada tungkai tapi biasanya tergantung pada derajat dari defek yang terjadi.
2.      Riwayat kesehatan lalu
                                                                                            i.      Prenatal History
Diperkirakan adanya keabnormalan pada kehamilan ibu (infeksi virus Rubella), mungkin ada riwayat pengguanaan alkohol dan obat-obatan serta penyakit DM pada ibu.
                                                                                          ii.      Intra natal
·         Riwayat kehamilan biasanya normal dan diinduksi.
·         Riwayat Neonatus
·         Gangguan respirasi biasanya sesak, takipnea
·         Anak rewel dan kesakitan
·         Tumbuh kembang anak terhambat
·         Terdapat edema pada tungkai dan hepatomegali
·         Sosial ekonomi keluarga yang rendah.
3.      Riwayat Kesehatan Keluarga
·         Adanya keluarga apakah itu satu atau dua orang yang mengalami kelainan defek jantung
·         Penyakit keturunan atau diwariskan
·         Penyakit kongenital atau bawaan

c)      Sistem yang dikaji :
v  Pola Aktivitas dan latihan
·         Keletihan/kelelahan
·         Dispnea
·         Perubahan tanda vital
·         Perubahan status mental
·         Takipnea
·         Kehilangan tonus otot
v  Pola persepsi dan pemeriksaan kesehatan
·         Riwayat hipertensi
·         Endokarditis
·         Penyakit katup jantung.
v  Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress
·         Ansietas, khawatir, takut
·         Stress yang b/d penyakit
v  Pola nutrisi dan metabolik
·         Anoreksia
·         Pembengkakan ekstremitas bawah/edema
v  Pola persepsi dan konsep diri
·         Kelemahan
·         Pening
v  Pola peran dan hubungan dengan sesame
·         Penurunan peran dalam aktivitas sosial dan keluarga
2)      Pengkajian Fisik
a)      Inspeksi
Pertumbuhan badan jelas terhambat, pucat dan banyak keringat bercucuran. Ujung-ujung jari hiperemik, diameter dada bertambah, nafas pendek, retraksi pada vena jugulum, sela interkostal dan region epigastrium. Pada anak kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik.
b)      Palpasi

Impuls jantung hiperdinamik kuat terutama yang timbul dari ventrikel kiri. Teraba getaraa bising pada dinding dada, pada DSA getaran bising teraba di sela iga ke II atau III kiri. Pada defek yang sangat besar sering tidak teraba getaran bising karena tekanan di ventrikel kiri sama dengan tekanan di ventrikel kiri. Teraba tepi hati tumpul di bawah lengkung iga kanan.

c)      Auskultasi
Pada DSA terdapat split bunyi jantung 2 tanpa bising sering menunjukkan gejala pertama dan salah satunya petunjuk akan DSA. Jarak antara komponen aorta pulmonal bunyi jantung 2 pada inspirasi dan ekspirasi tetap sama sehingga disebut “fixed splitting” . Bising sistolik dan pada pirau kiri ke kanan yang besar maka bising mik diastolic berfrekuensi rendah terdengar pada sela iga ke IV kiri atau kanan.
3)      Pemeriksaan Diagnostik
Ekokardiografi dapat menunjukkan beban volume ventrikel kananØ yang berlebihan dengan adanya ventrikel dan atrium kanan yang membesar, dan kadang-kadang tampak defeknya itu sendiri. Echo transesofageal dapat meningkatkan sensitivitas akan adanya pirau yang kecil dan foramen ovale paten. Aliran radionuklir menilai besarnya pirau dari kiri ke kanan. MRI untuk menjelaskan anatominya. Kateterisasi jantung, masih merupakan diagnostik pasti, karena dapat menunjukkan dengan jelas adanya peningkatan saturasi oksigen antara vena cava dan ventrikel kanan akibat bercampurnya darah mengandung oksigen dari atrium kiri, menilai beratnya pirau dan mengukur tahanan vascular darah pulmonary. Angiografi kontras ventrikel kanan dan ventrikel kiri dapat menunjukkan kelainan katup terkait atau anomaly aliran vena pulmonalis.

         2.      Diagnosa Keperawatan
a)      Penurunan curah jantung b/d Malformasi jantung
b)      Gangguan pertukaran gas b/d kongesti pulmonal.
c)      Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan rasio ventilasi perfusi.
d)     Gangguan tumbuh kembang b/d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
e)      Kerusakan integritas kulit b/d edema dan gangguan perfusi jaringan.
f)       Ansietas b/d status hospitalisasi anak, kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi anaknya.

       3.      Intervensi Keperawatan
1)      Penurunan curah jantung b/d malformasi jantung
Tujuan : Klien menunjukkan tanda vital dalam batas yang normal yang ditandai dengan: disritmia terkontrol, tidak sesak, bebas dari gagal jantung.

Intervensi :

a)      Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.
Rasional : Penurunan curah jantung dapat menunjukan menurunnya nadi perifer. Pucat menunjukan menurunnya perfusi perifer sekunder terhadap tidak adekuatnya curah jantung.
b)      Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, membrane mukosa, clubbing).

Rasional : Sianosis dapat terjadi sebagai refraktori GJK. Area yang sakit sering berwarnabiru atau belang karena peningkatan kongesti vena.

c)      Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, tachikardia, tachipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbital edema, oliguria)
Rasional : Tanda-tanda CHF merupakan indikator penilaian terhadap adanya gagal jantung dan untuk menentukan intervensi selanjutnya.
d)     Berkolaborasi dalam pemberian digoxin order, dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas.
Rasional : Insiden toksisitas tinggi (20%) karena sempitnya batas antara rentang terapeutik dan toksik. Digoxin harus dihentikan pada adanya kadar obat toksik, frekuensi jantung lambat.
e)      Berikan pengobatan untuk menurunkan after load.
Rasional : Obat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontraktilitas dan menurunkan kongesti.
f)       Berikan diuretika sesuai indikasi.
Rasional : Tipe dan dosis diuretic tergantung pada gagal jantung. Penurunan pre load paling banyak digunakan dalam mengobati pasien dengan curah jantung relative normal ditambah dengan gejala kongesti.
2)      Gangguan pertukaran gas b/d kongesti pulmonal
Tujuan : Klien dapat menunjukan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat pada jaringan serta tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru, yang ditandai dengan klien bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi:
a)      Monitor kualitas dan irama pernapasan.
Rasional : Jalan napas yang kolaps dapat menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi, secara negative mempengaruhi pertujaran gas.
b)      Berikan posisi semi fowler pada anak.
Rasional : Menurunkan konsumsi atau kebutuhan oksigendan mempermudah pernapasan yang meningkatkan kenyamanan fisiologi dan psikologi.
c)      Anjurkan kepada klien untuk istirahat yang cukup.
Rasional : Istirahat akan membantu respon klien terhadap aktivitas dan kemampuan berpartisipasi dalam perawatan.
d)     Anjurkan klien untuk batuk efektif, napas dalam.
Rasional : Membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran oksigen.
e)      Berikan oksigen jika ada indikasi.
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki atau menurunkan hipoksemia jaringan.
f)       Berikan obat diuretika seperti lasix.
Rasional : Menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan pertukaran gas.
3)      Intoleran aktifitas b/d kelemahan
Tujuan : Klien dapat mempertahankan aktivitas yang adekuat dan anak akan berpartisipasi dalam aktivitas yang dilakukan oleh anak seusianya, yang ditandai dengan menurunkan kelemahan dan kelelahan serta tanda vital dalam batas normal selama beraktivitas.
Intervensi :
a)      Periksa tanda vital sebelum dan selama aktivitas, terutama bila pasien menggunakan vasodilator atau diuretik.
Rasional : Tanda-tanda vital dapat berubah setelah melakukan suatu aktivitas efek akibat obat (vasodilatasi), perpindahan cairan (diuretik) dapat mempengaruhi fungsi jantung.
b)      Ijinkan anak untuk beristirahat, dan hindarkan gangguan pada saat tidur.
Rasional : Dengan memenuhi istirahat tidur dapat menghemat energi dan membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c)      Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan.
Rasional : Dengan permainan dan aktivitas ringan dapat mencegah kerja jantung secara tiba-tiba.
d)     Berikan periode istirahat setelah melakukan aktivitas.
Rasional : Memenuhi kebutuhan aktivitas atau permainan anak tanpa mempengaruhi stress miokard atau kebutuhan oksigen yang berlebihan.
e)      Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau dingin.
Rasional : Suhu lingkungan yang panas atau dingin dapat mengganggu rasa aman nyaman anak sehingga ia sering malas untuk beraktivitas.
4)      Gangguan tumbuh kembang b/d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi
Tujuan : Klien dapat mempertahankan berat badan dan tinggi badan yang sesuai yang ditandai dengan BB dan TB dalam batas normal sesuai dengan usianya.
Intervensi :
a)      Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi.
Rasional : Untuk memaksimalkan kualitas masukan nutrisi sehingga dapat mempertahankan berat badan dan membantu didalam perkembangan otak.
b)      Monitor tinggi dan berat badan anak.
Rasional : Sebagai suatu indikator atau petunjuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang terjadi.
c)      Jelaskan pada orang tua mengenai tumbang anak
Rasional : Agar orang tua dapat mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sehingga dapat berperan serta dalam pemberian pengobatan atau terapi.
d)     Ciptakan lingkungan yang tenang.
Rasional : Untuk memenuhi istirahat/relaksasi klien secara optimal
e)      Berikan oksigen 1-2 liter per menit.
Rasional : Memenuhi sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard guna melawan efek hipoksia atau iskemik.
5)      Kerusakan integritas kulit b/d edema lokal.
Tujuan : Klien dapat mempertahankan integritas kulitnya yang ditandai dengan anak bebas dari edema, memiliki kulit yang bersih dan utuh, integritas kulit terjamin.
Intervensi :
a)      Kaji kulit, catat adanya penonjolan tulang, edema area sirkulasi terganggu/pigmentasi.
Rasional : Kulit sangat beresiko karena gangguan sirkulasi perifer, imobilitas fisik dan gangguan status nutrisi.
b)      Pijat area kemerahan atau yang memutiih.
Rasional : Meningkatkan aliran darah, dan meminimalkan hipoksia jaringan.
c)      Ubah posisi sesering mungkin di tempat tidur/kursi, bantu latihan rentang gerak pasif/aktif.
Rasional : Memperbaiki sirkulasi/menurunkan waktu satu area yang mengganggu aliran darah.
d)     Berikan perawatan kulit kering dan meminimalkan dengan keadaan lembab/ekskresi.
Rasional : Kulit yang terlalu kering atau lembab dapat mempercepat proses kerusakan.
e)      Hindari pemberian obat intramuskuler.
Rasional : Edema interstisial dan gangguan sirkulasi memperlambat absorbsi obat dan merupakan faktor predisposisi untuk kerusakan kulit.
6)      Ansietas b/d Reaksi hospitalisasi anak, kurang pengetahuan orang tua tentang penyakit anaknya.
Tujuan : Klien dan orang tua tidak menunjukkan kecemasan, ditandai dengan anak dapat berespon terhadap prosedur pengobatan, orang tua akan mengekspresikan perasaaannya karena memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.
Intervensi :
a)      Jelaskan prosedur dengan cermat sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
Rasional : Untuk menurunkan rasa takut atau cemas terhadap hal-hal yang tidek diketahuinya.
b)      Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut, seperti menolak dan marah. Biarkan klien/keluarga mengetahui ini sebagai reaksi normal.
Rasional : Perasaan yang tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan meningkatkan kecemasan.
c)      Dorong keluarga untuk menganggap klien seperti sebelumnya
Rasional : Meyakinkan klien dan keluarga bahwa perannya di dalam keluarga tidak berubah.
d)     Berikan informasi yang jelas tentang kondisi anaknya
Rasional : Menambah pengetahuan keluarga tentang penyakit anaknya sehingga dapat meminimalkan kecemasannya.
e)      Berikan beberapa cara pada anak untuk melibatkannya dalam prosedur, misalnya memegang suatu alat, seperti balutan.
Rasional : Untuk meningkatkan rasa kontrol, mendorong kerja sama dan mendukung keterampilan koping anak.
f)       Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga dan keinginannya untuk belajar.
Rasional : Mengidentifikasi secara verbal tingkat pemahaman klien/keluarga serta kesalahpahaman dan memberikan penjelasan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...