Jumat, 08 Februari 2013

AsKep Hepatitis


BAB I
PENDAHULUAN


        A.   LATAR BELAKANG
Hepatitis merupakan inflamasi dan cedera pada hepar, penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau oleh toksin termasuk alkohol dan dijumpai pada kanker hati. Hepatitis virus adalah istilah yang digunakan untuk infeksi hepar oleh virus, identifikasi virus penyakit dilakukan terus menerus, tetapi agen virus A, B, C, D, E, F dan G terhitung kira-kira 95% kasus dari hepatitis virus akut. (Ester Monica, 2002 : 93)
Penyakit hepatitis merupakan urutan pertama dari berbagai penyakit hati diseluruh dunia. Penyakit ini sangat berbahaya bagi kehidupan karena penykit hepatits ataupun gejala sisanya bertanggung jawab atas 1-2 juta kematian setiap tahunnya. (Aru, w sudoyo, 2006 : 429). Infeksi virus hepatitis bisa berkembang menjadi sirosis atau pengerasan hati bahkan kanker hati. Masalahnya, sebagian besar infeksi hepatitis tidak menimbulkan gejala dan baru terasa 10-30 tahun kemudian saat infeksi sudah parah. Pada saat itu gejala timbul, antara lain badan terasa panas, mual, muntah, mudah lelah, nyeri diperut kanan atas, setelah beberapa hari air seninya berwarna seperti teh tua, kemudian mata tampak kuning dan akhirnya seluruh kulit tubuh menjadi kuning. Pasien hepatitis biasanya baru sembuh dalam waktu satu bulan.

Menurut guru besar hepatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga ketua kelompok kerja Hepatitis Departemen Kesehatan, Alli Sulaiman, virus hepatitis menginfeksi sekitar 2 miliar orang didunia. Setiap tahun lebih dari 1.300.000 orang meninggal dunia akibat hepatitis beserta komplikasinya. Prevalensi di Indonesia sekitar 10-15 persen jumlah penduduk atau sekitar 18 juta jiwa. Dari jumlah yang terinfeksi, kurang dari 10 persen yang terdiagnosis dan diobati. Sebanyak 90 persen lain tidak menimbulkan gejala sehingga tidak terdiagnosis. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting.

Insiden hepatitis yang terus meningkat semakin menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini menjadi penting karena mudah ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya absen dari sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang lama. 60-90% dari kasus-kasus hepatitis virus diperkirakan berlangsung tanpa dilaporkan. Keberadaan kasus-kasus subklinis, ketidakberhasilan untuk mengenali kasus-kasus yang ringan dan kesalahan diagnosis diperkirakan turut menjadi penyebab pelaporan yang kurang dari keadaan sebenarnya. (Brunner & Sudarth, 2001 : 1169)
Pada umumnya klien yang menderita penyakit hepatitis ini mengalami Anoreksia atau penurunan nafsu makan dimana gejala ini diperkirakan terjadi akibat pelepasan toksin oleh hati yang rusak untuk melakukan detoksifikasi produk yang abnormal sehingga klien ini haruslah mendapatkan nutrisi yang cukup agar dapat memproduksi enegi metabolik sehingga klien tidak mudah lelah. Secara khusus terapi nutrisi yang didesain dapat diberikan melalui rute parenteral atau enteral bila penggunaan standar diet melalui rute oral tidak adekuat atau tidak mungkin untuk mencegah/memperbaiki malnutrisi protein-kalori. Nutrisi enteral lebih ditujukan pada pasien yang mempunyai fungsi GI tetapi tidak mampu mengkonsumsi masukan nasogastrik. Nutrisi parenteral dapat dipilih karena status perubahan metabolik atau bila abnormalitas mekanik atau fungsi dari saluran gastrointestinal mencegah pemberian makan enteral. Asam amino,karbohidrat, elemen renik, vitamin dan elektrolit dapat diinfuskan melalui vena sentral atau perifer. (Marilyn E. Doengoes, 1999: 758)
Pentingnya mengetahui penyebab hepatitis bagi klien adalah apabila ada anggota keluarga menderita penyakit yang sama, supaya anggota keluarga dan klien siap menghadapi resiko terburuk dari penyakit hepatitis beserta komplikasinya sehingga penderita mampu menyiapkan diri dengan pencegahan dan pengobatan yaitu: penyediaan makanan dan air bersih yang aman, sistem pembuangan sampah yang efektif, perhatikan higiene secara umum, mencuci tangan, pemakaian kateter, jarum suntik dan spuit sekali pakai serta selalu menjaga kondisi tubuh dengan sebaik-baiknya. Apabila hal ini tidak dilakukan dengan benar dan teratur berarti keluarga dan penderita harus siap menerima resiko komplikasi lainnya dan bahkan dapat menyebabkan kematian.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan memerlukan asuhan keperawatan yang tepat, disamping itu juga memerlukan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga akibat dan komplikasi dapat dihindari seperti memberi penjelasan tentang Hepatitis antara lain: penyebab, tanda dan gejala, pengobatan, perawatan, penularan dan akibat yang didapat kalau pengobatan tidak dilakukan.





BAB II
PEMBAHASAN



A.   PENGERTIAN
Hepatitis merupakan istilah umum yang berarti peradangan pada sel-sel hati. Peradangan hati ini dapat disebabkan oleh infeksi, paparan alcohol, obat-obatan tertentu, bahan kimia, atau racun, atau dari system kekebalan tubuh.  ( Arif Muttaqin, 2011 )

Hepatitis virus akut adalah penyakit infeksi yang penyebarannya luas, walaupun efek utamanya pada hati.( Syivia .A. price, 2005 )

Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia serta seluler yang khas. ( Brunner & Suddarth, 2001 )
Jadi, Hepatitis virus akut adalah penyakit pada hati yang gejala utamanya berhubungan erat dengan adanya nekrosis pad hati. Biasanya disebabkan oleh virus yaitu virus hepatitis A, virus hepatitis B, virus hepatitis C, dll.
Jenis-jenis Hepatitis
Hepatitis A : yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, disebabkan oleh virus RNA dari family enterovirus. Cara penularan penyakit ini adalah melalui jalur fekal-oral, terutama lewat konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus tersebut. Umumnya terjadi didaerah kumuh berupa endemik. Masa inkubasi : 2-6 minggu, kemudian menunjukkan gejala klinis. Populasi paling sering terinfeksi adalah anak-anak dan dewasa muda.( Brunner & Suddarth, 2001 )

Hepatitis B : yang dahulu dinamakan hepatitis serum.  Disebabkan oleh  virus hepatitis B ( HBV ), Cara penularan penyakit ini adalah parental atau lewat kontak dengan karier atau penderita infeksi akut, kontak seksual dan oral-oral. Penularan perinatal dari ibu kepada bayinya. Ancaman kesehatan kerja yang penting bagi petugas kesehatan. ( Brunner & Suddarth, 2001 ) Golongan yang beresiko tinggi adalah mereka yang sering tranfusi darah, pengguna obat injeksi. Masa inkubasi  mulai 6 minggu sampai dengan 6 bulan sampai timbul gejala klinis.

Hepatitis C : yang dahulu dinamakan non-A, non-B. suatu peradangan pada sel-sel hati yang disebabkan oleh virus hepatitis C (HCV ).  cara penularan HCV sama dengan HBV, tetapi terutama transfuse darah dan produk darah, terkena darah yang terkontaminasi lewat peralatan atau parafenalia obat. ( Brunner & Suddarth, 2001 ). Populasi yang paling sering terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, individu yang menerima produk darah, potensial risiko terhadap pekerja perawatan kesehatan  dan keamanan masyarakat yang terpajan pada darah. Masa inkubasinya adalah selama 18-180 hari.

Hepatitis D : yang dahulu sering disebut hepatitis delta,  suatu peradangan pada sel-sel hati yang disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV ). Cara penularan sama seperti HBV. Antigen permukaan HBV diperlukan untuk replikasi, pola penularan serupa dengan pola penularan hepatitis B. (Brunner & Suddarth, 2001 ; Arief Muttaqin, 2011). Populasi yang sering terinfeksi adalah pengguna obat injeksi, hemofili, resipien tranfusi darah multipel (infeksi hanya individu yang telah mempunyai HBV). Masa inkubasinya belum diketahui secara pasti. HDV ini meningkatkan resiko timbulnya hepatitis fulminan, kegagalan hati, dan kematian

Hepatitis E : mengacu pada peradangan pada sel-sel yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis E (HEV). Cara penularan melalui jalur-jalur fekal-oral, kontak antar manusia dimungkinkan menskipun resikonya rendah. (Brunner & Suddarth, 2001 ; Arief Muttaqin, 2011). . populasi yang paling sering terinfeksi adalah orang yang hidup pada atau perjalanan pada bagian Asia, Afrika atau Meksiko dimana sanitasi buruk, dan paling sering pada dewasa muda hingga pertengahan.

Kemungkinan Hepatitis F dan G : Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan tentang hepatitis F. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah. Sedangkan hepatitis G gejala serupa hepatitis C, seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B dan/atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.


B.   ANATOMI DAN FISIOLOGI
a)    Anatomi
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia dengan berat 1500 gram. Hati merupakan organ lunak yang lentur dan tercetak oleh struktur sekitarnya. Hati memiliki permukaan superior yang cembung dan terletak di bawah kubah kanan diafragma dan sebagian kubah kiri. Bagian bawah hati berbentuk cekung dan merupakan atap dari ginjal kanan, lambung, pankreas, dan usus.
Hati memiliki dua lobus utama yaitu, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan psterior oleh fisura segmentalis kanan yang tidak terlihat dari luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum falsiformis yang terlihat dari luar. Ligamentum falsiformis berjalan dari hati ke diafragma dan dinding depan abdomen. Permukaan hepar diliputi oleh peritoneum viseralis, kecuali daerah kecil pada permukaan posterior yang melekat langsung pada diafragma.
Saluran – saluran hepar terdiri dari:
1.      Arteria hepatikum adalah salah satu cabang dari arteria  seliaka dari aorta. Arteria ini menyuplai darah ke hepar.
2.      Vena porta hepatika membawa darah vena dari seluruh traktus gastrointestinal ke hepar. Darah ini mengandung zat – zat makanan yang telah diserap oleh vili usus halus.

3.      Vena hepatika membawa darah vena dari hepar ke vena inferior.

4.      Saluran – saluran bilier juga disebut kanalikuli empedu, dibentuk oleh kapiler-kapiler empedu yang menyatu dan menyalurkan empedu yang dihasilkan oleh sel-sel hepar. (mary Baradero, 2008)
Sirkulasi darah ke dalam dan keluar hati sangat penting dalam penyelenggaraan fungsi hati. Darah yang mengalir ke dalam hati berasal dari dua sumber. Kurang lebih 75% suplai darah datang dari vena porta yang mengalirkan darah yang kaya akan nutrien dari traktus gastrointestinal. Bagian lain suplai darah tersebut masuk ke dalam hati lewat arteri hepatika dan banyak mengandung oksigen. Cabang-cabang terminalis kedua pembuluh darah ini bersatu untuk membentuk capillary beds bersama yang merupakan sinusoid hepatik. Dengan demikian, sel-sel hati (hepatosit) akan terendam oleh campuran darah vena dan arterial. Sinusoid hepatik kemudian mengosongkan isinya ke dalam venule yang berada pada bagian tengah masing-masing lobulus hepatik dan dinamakan vena sentralis. Vena sentralis bersatu membentuk vena hepatika yang merupakan drainase vena dari hati dan akan mengalirkan isinya ke dalam vena inferior di dekat diafragma. Jadi, terdapat dua sumber yang mengalirkan darah masuk ke dalam hati dan hanya terdapat satu lintasan keluarnya. (Susanne C. Smeltzer, 2001)
b)    Fungsi
-       Pembentukan empedu
-       Penyimpanan dan pelepasan karbohidrat
-       Pembentukan urea
-       Metabolisme kolesterol
-       Pembentukan protein plasma
-       Detoksifikasi

1.    Metabolism Karbohidrat Hati
o   Penyimpanan glikogen
o   Mengubah galaktosa dan fruktosa menjadi glukosa
o   Glukoneogenesis
o   Pembentukan berbagai bahan kimia penting dari metabolisme karbohidrat

2.    Metabolism Lemak Hati
o   Melakukan oksidasi asam lemak dgn cepat untuk kebutuhan energi tubuh
o   Membentuk sebagian besar lipoprotein
o   Sintesa kolesterol dan fosfolipid dlm jumlah besar
o   Mengubah karbohidrat dan protein dlm jumlah besar menjadi lemak

3.    Metabolism Protein Hati
o   Deaminasi asam protein
o   Pembentukan urea utk membuang amonia dari cairan tubuh
o   Pembentukan protein plasma
o   Interkonversi diantara berbagai asam amino dan komponen penting lainnya
Fungsi hati lainnya yaitu : Penyimpanan vitamin, Penyimpanan Fe, dan Proses pembekuan darah, pembentukan empedu, metabolism obat, dan eksresi bilirubin.

C.   ETIOLOGI
1.    Virus

Type A
Type B
Type C
Type D
Type E
Metode transmisi
Fekal-oral melalui orang lain
Parenteral seksual, perinatal
Parenteral jarang seksual, orang ke orang, perinatal
Parenteral perinatal, memerlukan koinfeksi dengan type B

Fekal-oral
Keparah-an
Tak ikterik dan asimto- matik
Parah
Menyebar luas, dapat berkem-bang sampai kronis
Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut

Sama dengan D
Sumber virus
Darah, feces, saliva
Darah, saliva, semen, sekresi vagina
Terutama melalui darah
Melalui darah
Darah, feces, saliva

2.    Alkohol
Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis.
3.    Obat-obatan
Menyebabkan toksik untuk hati, sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut.
D.   PATOFISIOLOGI
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati.
Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.
Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
                       

HEPATITIS A :
                        Virus hepatitis A merupakan virus RNA kecil berdiameter 27 nm yang dapat dideteksi didalam feses pada akhir masa inkubasi dan fase praikterik. HAV merupakan jenis infeksi hepatitis virus yang paling sering di Amerika Serikat. HAV lazim terjadi pada anak dan dewasa muda. Terdapat peningkataninsidensi pada musim tertentu, yaitu musim gugur dan musim dingin.
            HAV terutama ditularkan melalui per oral dengan menelan makanan yang sudah terkontaminasi dengan feses, penularan melalui tranfusi darah jarang terjadi. Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak atau terjadi akibat kontak dengan orang yang terinfeksi melalui kontaminasi feses pada makanan atau air minum, atau dengan menelan karang yang mengandung virus yang tidak dimasak dengan baik. Kasus yang timbul dapat bersifat sporadic, sedangkan epidemi dapat timbul pada daerah yang sangat padat seperti pada pusat perawatan dan rumah sakit jiwa. Penularan ditinjau oleh sanitasi yang buruk, dan kontak yang intim ( tinggal serumah atau seksual). Masa inkubasi sekitar 30 hari. Masa penularan tertinggi adalah pada minggu kedua segera sebelum timbulnya ikterus. .( Syivia .A. price, 2005 )
                        HEPATITIS B :
            Virus hepatitis B ( HBV ) merupakan virus DNA berselubung ganda berukuran 42 nm yang memiliki lapisan permukaan dan bagian inti.
Hepatitis B memiliki masa inkubasi yang panjang. Virus hepatitis B mengadakan replikasi pada hati dan tetap berada dalam serum selama periode yang relative lama sehingga memungkinkan penularan virus tersebut. Dengan demikian, indifidu yang berisiko terhadap hepatitis B adalah para dokter bedah, pekerja laboratorium klinik, dokter gigi, perawat dan terapis respiratorik. (Brunner & Suddarth, 2001 ).
Infeksi HBV merupakan penyebab utama hepatitis akut, kronis, sirosis dan kanker hati diseluruh dunia. Cara utama penularan HBV adalah melalui perenteral, dan menembus mukosa, terutama melalui hubungan seksual. Masa inkubasi rata-rata adalah sekitar 60 hingga 90 hari. ( Syivia .A. price, 2005 )
                        HEPATITS C :
HCV merupakan virus RNA untai tunggal, linear berdiameter 50 sampai 60 nm. ( Syivia .A. price, 2005 ).
Kasus-kasus ini diklasifikasikan sebagai hepatitis C ( yang dahulunya disebut hepatitis non-A, non-B atau hepatitis NANB ). Orang-orang dengan resiko khusus untuk terkena hepatitis C mencangkup anak-anak yang sering mendapatkan transfuse atau individu yang memerlukan darah dalam jumlah yang besar. Hepatitis lebih besar kemungkinannya untuk ditularkan dari donor komersial atau donor bayaran ketimbang donor relawan. Masa inkubasi hepatitis C bervariasi dan dapat berkisar dari 15 sampai 160 hari. Perjalanan klinis hepatitis C  yang akut serupa dengan hepatitis B; gejala hepatitis C biasanya ringan. Meskipun demikian, status karier yang kronis sering terjadi dan terdapat peningkatan resiko untuk menderita penyakit hati yang kronis sesudah hepatits C, termasuk sirosis atau kanker hati. (Brunner & Suddarth, 2001 ).
                        HEPATITIS D :
Virus hepatitis D ( HDV, virus delta ) merupakan virus RNA berukuran 35 hingga 37 nm yang tidak biasa karena membutuhkan HBsAg untuk berperan sebagai lapisan luar partikel yang infeksius. Sehingga hanya penderita positif HBsAg yang dapat terinfeksi HDV. Penularan terjadi terutama melalui serum, dan di Amerika Serikat penyakit ini terutama menyerang pengguna obat melalui intravena. ( Syivia .A. price, 2005 ).
Gejala hepatitis D serrupa dengan gejala hepatits B, kecuali pesiennya lebih cenderung untuk menderita hepatitis fulminan dan berlanjut menjadi hepatitis aktif yang kronis serta sirosis hati. (Brunner & Suddarth, 2001 ).
Masa inkubasi diyakini menyerupai HBV yaitu sekitar 1 hingga 2 bulan. HDV dapat timbul sendiri sebagai infeksi akut, infeksi kronis, atau ko-infeksi atau superinfeksi dengan HBV. ( Syivia .A. price, 2005 ).
                        HEPATITIS E :
HEV adalah suatu virus RNA untai-tunggal yang kecil berdiameter kurang lebih 32 sampai 34 nm dan tidak berkapsul. HEV adalah jenis hepatitis non-A, non-B yang ditularkan secara enteric melalui jalur fekal-oral. Penyakit ini paling sering menyerang usia dewasa muda sampai pertengahan dengan angka mortalitas sebesar 1 hingga 2 % dalam popilasi umum dan memiliki angka  mortalitas yang sangat tinggi (20%) pada wanita hamil. Masa inkubasi sekitar 6 minggu. ( Syivia .A. price, 2005 ).
                        Kemungkinan HEPATITIS F dan G :
Masih terdapat perdebatan dalam penelitian hepatitis mengenai kemungkinan adanya virus hepatitis F. dilakukan penelitian ditemukannya beberapa partikel virus (non-A, non-B,non-C,non-D, non-E), yang disuntikan ke kera rhesus Indian. Oleh karena itu meskipun telah dapat system klasifikasi nama HFV, masih belum dipastikan bahwa virus hepatitis F benar-benar ada.
Virus hepatitis G (HGV) adalah suatu flavivirus RNA yang mungkin menyebabkan hepatitis fulminan. HGV ditularkan terrutama melalui air, namun juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kelompok yang berisiko adalah individu yang telah menjalani transfusi darah, tertusuk jarum suntik secara tidak sengaja, penggunaan obat melalui intravena atau pasien hemodialisis. ( Syivia .A. price, 2005 ).

E.   MANIFESTASI KLINIS
Hepatitis A :
-       dapat terjadi dengan atau tanpa gejala ; sakit mirip flu
-       fase praikterik : sakit kepala, malaise, fatigue, anoreksia, febris.
-       Fase ikterik : urin yang berwarna gelap, gejala ikterus pada sclera dan kulit, nyeri tekan pada hati.
Hepatits B : dapat terjadi tanpa gejala, dapat timbul artlargia, ruam.
Hepatitis C : serupa dengan HBV, tidak begitu berat dan anikterik
Hepatitis D : serupa dengan HBV
Hepatitis E : serupa dengan HAV, sangat berat pada wanita yang hamil.
(Brunner & Suddarth, 2001 ).

F.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Laboratorium
a.    Pemeriksaan pigmen
-      urobilirubin direk
-      bilirubun serum total
-      bilirubin urine
-      urobilinogen urine
-      urobilinogen feses
b.    Pemeriksaan protein
-      protein totel serum
-      albumin serum
-      globulin serum
-      HBsAg           akut da kronis       hepatitis B
-      Ig.M anti HBc        akut
c.    Waktu protombin
-               respon waktu protombin terhadap vitamin K
d.    Pemeriksaan serum transferase dan transaminase
-      AST atau SGOT
-      ALT atau SGPT
-      LDH
-      Amonia serum
2.    Radiologi
-      foto rontgen abdomen
-      pemindahan hati denagn preparat technetium, emas, atau rose bengal yang berlabel radioaktif
-      kolestogram dan kalangiogram
-      arteriografi pembuluh darah seliaka
3.    Pemeriksaan tambahan
-      laparoskopi
-      biopsi hati

G.   KOMPLIKASI
 Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik. Hiperbilirubinemia.


H.   PENATALAKSANAAN MEDIK
Saat ini telah banyak jenis pengobatan yang diberikan pada pasien penyakit hepatitis. Pengobatan yang diberikan dapat berupa tindakan medis (kedokteran) maupun non medis. Tindakan non medis antara lain adalah akupunktur, akupresure, reflesiologi, pengobatan herbal, dan lain-lain. Tindakan non medis ini dapat diberikan sebagai tindakan komplementer dari tindakan medis ataupun alternatif.
Terapi secara medis dapat berupa terapi suportif, simtomatis dan kausatif. Terapi suportif adalah terapi yang membantu agar fungsi-fungsi penting tubuh tetap bekerja dengan baik. Terapi simtomatis diberikan pada pasien untuk meringankan gejala penyakit. Sedangkan terapi kausatif berguna untuk menghilangkan penyebab dari penyakit hepatitis itu sendiri, biasanya berupa antivirus pada kasus penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus.
Terapi medis untuk kasus hepatitis B kronis bertujuan untuk menekan replikasi virus hepatitis B (HB). Tujuan jangka pendek pengobatan ini adalah membatasi peradangan hati dan memperkecil kemungkinan fibrosis (jaringan ikat) pada hati maupun sirosis. Sementara tujuan jangka panjangnya adalah mencegah meningkatnya kadar serum transminase dan komplikasi hepatitis yang lebih buruk.
Terapi medis yang biasa diberikan pada penderita penyakit hepatitis diantaranya adalah
1.    Tirah baring
Penderita penyakit hepatitis harus menjalani istirahat di tempat tidur saat    mengalami fase akut. Jika gejala klinis cukup parah, penderita perlu    dirawat di rumah sakit. Penderita harus mengurangi aktivitas hariannya.            Tujuan dari istirahat ini adalah memberi kesempatan pada tubuh untuk        memulihkan sel-sel yang rusak.
2.    Diet
Pada prinsipnya penderita seharusnya mendapat diet cukup kalori. Pada stadium ini persoalannya ialah bahwa penderita mengeluh mual dan bahkan muntah, disamping hal mengganggu yaitu tidak nafsu makan. Dalam keadaan ini jika dianggap perlu pemberian makanan dapt dibantu dengan pemberian infuse cairan glukosa.

.
3.    Obat-obatan
Pada saat ini belum ada obat yang mempunyai khasiat memperbaiki kematian / kerusakan sel hati dan memperpendek perjalanan penyakit hepatitis virus akut.
1.    Dilarang makan dan minum yang mengandung alkohol. Biasanya penderita penyakit hepatitis akut merasa mual di malam hari. Oleh karena itu sebaiknya asupan kalori diberikan secara maksimal di pagi hari. Jika penderita mengalami rasa mual yang hebat atau bahkan muntah terus menerus maka biasanya makanan diberikan dalam bentuk cair melalui infus.
2.    Penderita penyakit hepatitis diberi obat untuk mengatasi peradangan yang terjadi di hati. Selain itu pada kasus penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus, penderita diberi antiviral/antivirus dengan dosis yang tepat. Tujuan pemberian antivirus ini adalah untuk menekan replikasi virus.Virus membutuhkan sel inang untuk melakukan replikasi (menggandakan diri). Sel inang dalam kasus hepatitis adalah sel-sel hati. Proses replikasi virus melalui beberapa tahapan. Tahap pertama virus melakukan penetrasi (masuk) ke dalam sel inang (sel hati). Tahap kedua virus melakukan pengelupasan selubung virus. Tahap ketiga adalah sintesis DNA virus. Tahap keempat adalah tahap replikasi. Tahap terakhir adalah tahap pelepasan virus keluar dari sel inang dalam bentuk virus-virus baru. Virus-virus baru inilah yang siap menginfeksi sel-sel hati lainnya.
Antivirus bekerja menghambat salah satu tahapan tersebut, tergantung jenis antivirusnya. Beberapa macam antivirus diantaranya adalahinterferonlamivudinribavirinadepovir dipivoksilentecavir, dan telbivudin. Antivirus diberikan berdasarkan hasil tes darah dan pemeriksaan fisik dan laboratorium. Hasil penelitian menunjukan bahwa terapi antivirus akan lebih efektif pada kasus hepatitis aktif.
Fungsi hati dan ginjal harus terus di monitor selama terapi antivirus, sehingga efek samping dapat dicegah sedini mungkin. Pada kasus hepatitis C, kombinasi terapi interferon dan ribavirin adalah yang dianjurkan.


I.      ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HEPATITIS

1.    Pengkajian
         Anamnesis
·         Identitas
Nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang digunakan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosis medis.
·         Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluh adanya ikterus, anoreksia, mual, muntah, kulit gatal, dan gangguan pola tidur. Pada beberapa pasien juga mengeluh demam ringan, nyeri otot, nyeri dan merasa ada benjolan pada abdomen kanan atas, keluhan nyeri kepala, keluahan riwayat mudah mengalami perdarahan, serta bias didapatkan adanya perubahan kesadaran secara progresif sebagai respons dari hepatic ensefalopati, seperti agitasi (gelisah), tremor, disorientasi, confussion, kesadaran delirium sampai koma.
·            Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat menderita hepatitis virus, khususnya hepatitis B dan C, riwayat penggunaan alcohol, dan riwayat penyakit kuning yang penyebabnya belum jelas.
·            Riwayat penyakit psikososialspiritual
Akan didapatkan peningkatan kecemasan, serta perlunya pemenuhan informasi intervensi keperawatan dan pengobatan. Pada pasien dalam kondisi terminal, pasien dan keluarga membutuhkan dukungan perawat atau ahli spiritual sesuai dengan keyakinan pasien.
        


Riwayat kesehatan
1.    Aktivitas
ð  Kelemahan
ð  Kelelahan
ð  Malaise

2.    Sirkulasi
ð  Bradikardi ( hiperbilirubin berat )
ð  Ikterik pada sklera kulit, membran mukosa
3.    Eliminasi
ð  Urine gelap
ð  Diare feses warna tanah liat
4.    Makanan dan Cairan
ð  Anoreksia
ð  Berat badan menurun
ð  Mual dan muntah
ð  Peningkatan oedema
ð  Asites

5.    Neurosensori
ð  Peka terhadap rangsang
ð  Cenderung tidur
ð  Letargi
ð  Asteriksis
6.    Nyeri / Kenyamanan
ð  Kram abdomen
ð  Nyeri tekan pada kuadran kanan
ð  Mialgia
ð  Atralgia
ð  Sakit kepala
ð  Gatal ( pruritus )
7.    Keamanan
ð  Demam
ð  Urtikaria
ð  Lesi makulopopuler
ð  Eritema
ð  Splenomegali
ð  Pembesaran nodus servikal posterior
8.    Seksualitas
ð  Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan




2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia dan gangguan gastrointestinal.
b.    Intoleransi aktivitas b/ d kelemahan fisik.
c.    Kelebihan volume cairan b/d asites dan pembentukan edema.
d.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ikterus dan status imunologi yang terganggu.
e.    Resiko tinggi Pola napas tidak efektif b/d asites.

3.    Intervensi Keperawatan
a.    Perubahan nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia dan gangguan gastrointestinal.
Tujuan : Perbaikan status nutrisi.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.

Intervensi :
Mandiri
                                i.       Awasi pemasukan diet / jumlah kalori. Tawarkan makanan dengan porsi sedikit tapi sering.
R / Makanan dengan porsi kecil dan sering lebih ditolerir oleh penderita anoreksia.
                               ii.       Berikan perawatan mulut sebelum makan.
R / Menghilangkan rasa tak enak, meningkatkan nafsu makan.
                             iii.       Anjuran makan pada posisi duduk tegak.
R / Menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
                           iv.       Pantang alkohol.
R / Menghilangkan makanan dengan “kalori kosong” dan menghindari iritasi lambung oleh alkohol.
                            v.       Hidangkan makanan yang menimbulkan selera dan menarik dalam penyajiannya.
R / Mengurangi citarasa yang tidak enak dan merangsang selera makan.

Kolaborasi
4.  Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien, dengan memasukkan lemak dan protein sesuai toleransi.
R / Berguna dalam membuat program diet untuk memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan lemak jika terjadi diare. Pembatasan protein diidentifikasikan pada hepatitis kronis karena akumulasi produk akhir dapat mencetuskan hepatic ensefalopati.
5.  Awasi glukosa darah.
R / Hiperglikemia/hipoglikemia dapat terjadi, memerlukan perubahan diet.
6.  Berikan obat sesuai indikasi
R / beberapa obat bersifat hepatotoksik, selain itu kerusakan hati telah menurunkan kemampuan metabolisme obat, meningkatkan kecenderungan perdarahan.s

b.    Intoleransi aktivitas b/ d kelemahan fisik.
Tujuan : peningkatan energi dan partisipasi dalam aktivitas.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan teknik atau perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.
Intervensi :
                 i.       Kaji tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas.
R / sebagai acuan dalam menentukan tindakan keperawatan.
               ii.       Tingkatkan tirah baring, berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung.
R / Meningkatkan istirahat dan ketenangan.
              iii.       Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan gerak pasif / aktif.
R / Peningkatan nadi dan penurunan TD menunjukkan kehilangan volume darah sirkulasi
              iv.       Observasi TTV.
R / Peningkatan tekanan darah biasanya berhubungan dengan volume cairan.
               v.       Catat perubahan mental dan tingkat kesadaran.
R / Perubahan dapat menunjukkan penurunan perfusi jaringan serebral sekunder terhadap hipovolemia, hipoksemi.

c.    Kelebihan volume cairan b/d asites dan pembentukan edema.
   Tujuan     : Pemulihan kepada volume cairan yang normal.
   Intervensi :
                 i.       Batasi asupan natrium dan cairan jika diinstruksikan.
R / Meminimalkan pembentukan asites dan edema.
               ii.     Berikan diuretik, suplemen kalium dan protein seperti yang di indikasikan.
R / Meningkatkan ekskresi cairan lewat ginjal dan mempertahankan keseimbangan cairan serta elektrolit yang normal.
              iii.     Catat intake dan output
R / Menilai efektivitas terapi dan kecukupan asupan cairan.
              iv.     Ukur dan catat lingkar perut setiap hari.
R / Memantau perubahan pada pembentukan asites dan penumpukan cairan.
               v.     Jelaskan rasional pembatasan natrium dan cairan.
R / Meningkatkan pemahaman dan kerjasama pasien dalam menjalani dan melaksanakan pembatasan cairan.

d.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ikterus dan status imunologi yang terganggu
Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan meminimalkan iritasi kulit Intervensi:
               i.       Observasi dan catat derajat ikterus pada kulit dan sklera.
R / Memberikan dasar untuk deteksi perubahan dan evaluasi intervensi.
              ii.       Lakukan perawatan yang sering pada kulit, mandi tanpa menggunakan sabun dan melakukan masase dengan losion pelembut (emolien).
R / Mencegah kekeringan kulit dan meminimalkan pruritus
             iii.       Jaga agar kuku pasien selalu pendek
R / Mencegah ekskoriasi kulit akibat garukan

e.    Resiko tinggi pola napas yang tidak efektif b/d asites
 Tujuan : mempertahankan pola napas efektif.
Intervensi :
                 i.     Kaji frekuensi, kedalaman dan upaya pernafasan.
R / Pernafasan dangkal/cepat kemungkinan ada sehubungan dengan hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen.
               ii.     Auskultasi bunyi nafas.
R / adanya bunyi nafas tambahan kemungkinan menunjukkan adanya akumulasi cairan.
           iii.        Berikan posisi semi fowler.

R / Memudahkan pernafasan dengan menurunkan tekanan pada diafragma.

4.    Evaluasi
·        Toleransi terhadap makanan  dan diet yang dianjurkan
·        Penanganan yang tepat tehadap masalah yang muncul.
·        Tidak terjadi komplikasi yang lebih lanjut

5.    Discharge planning
  • Hindari minuman beralkohol
  • Berikan penyuluhan pada pasien untuk membatasi aktivitas
  • Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang terapi yang di berikan , dosis serta efek samping.
  • Tekankan kepada pasien untuk control sesuai dengan waktu yang di tentukan.
  • Anjurkan pasien banyak minum air putih dan konsumsi makanan sehat seperti sayur dan buah.




BAB III
PENUTUP

a.    Kesimpulan
1.   Hepatitis adalah penyakit hati kronik yang di sebabkan oleh virus yang ditandai dengan hilangnya sebagian besar fungsi hati
2.  Penanganan untuk mengatasi masalah pada pasien dengan Hepatitis harus dilakukan melalui tindakan keperawatan yang berurutan dan sistematis yang terdiri dari pengkajian, perumusan masalah, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi
3.  Peningkatan pengetahuan penyakit, perawatan dan pengobatan pada  keluarga dan masyarakat untuk mengenal manifestasi klinik yang dialami pasien Hepatitis serta cara untuk mengatasinya.

b.    Saran
Diharapakan mahasiswa/i agar lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khususnya seluruh komponen proses keperawatan seiring dengan perkembangan penemuan baru di dunia keperawatan.













DAFTAR PUSTAKA
1.     Mutaqin Arif, Sari kumala 2011. Gangguan Gastrointestinal. Jakarta : Salemba Medical
2.     Fahrial syam, Ari, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 2009, Jilid 1,Edisi Ke-5. Jakarta : Interna Publishing
3.     Mansjoer arief, Kuspuji Triyanti, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Edisi Ke-3. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Media Aesculapius
4.     Rubenstein David, David Wayne, dan John Bradley. 2005. Kedokteran Klinis, edisi Ke-6. Jakarta : Erlangga
5.     Smeltzer,C.Suzanne. dan Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajaran Keperawatan Medikal-Bedah (Brunner & Suddarth), Edisi 8, vol 2. Jakarta : EGC
6.    Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson 2005. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit, Volume, Edisi Ke-6, . Jakarta : EGC
7.    Doenges, Marilynn E 1999. Rencana Asuhan Keperawatan.  Jakarta : EGC
.















Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...